Kisah Kapal Dagang dan Gundukan Pasir di Balik Nama Pulau Beras Basah

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Di balik keindahan pasir putih dan jernihnya air laut Pulau Beras Basah di Kota Bontang, tersimpan sebuah narasi tutur lisan yang melegenda. Nama destinasi favorit di Kalimantan Timur ini lahir dari sebuah peristiwa dramatis yang melibatkan kapal dagang asal Sulawesi di masa lampau, Sabtu (14/02/26).

Cerita ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan bagian dari sejarah maritim yang diyakini oleh masyarakat Bontang Kuala secara turun-temurun. Sebuah gundukan pasir di tengah laut menjadi saksi bisu perjuangan para pelaut dalam menyelamatkan komoditas utama mereka.

Tragedi yang Menjadi Nama

Alkisah, sebuah kapal besar yang bermuatan penuh beras sedang berlayar dari Sulawesi menuju daratan Kalimantan. Namun, saat melintasi perairan Bontang, kapal tersebut dihantam musibah hingga karam. Ribuan karung beras pun tumpah dan terendam air laut yang asin.

Para pedagang yang selamat berusaha keras mengamankan sisa-sisa muatan mereka. Mereka kemudian menemukan sebuah gundukan pasir yang muncul di permukaan laut dan segera membawa beras-beras yang terendam tersebut ke sana. Di atas gundukan pasir itulah, beras yang masih basah dijemur di bawah terik matahari agar tidak membusuk.

Masyarakat pesisir, khususnya di Bontang Kuala, senantiasa mengingat peristiwa tersebut sebagai awal mula penyebutan area tersebut. Visualisasi hamparan beras yang basah di atas pasir putih itulah yang kemudian secara permanen melekat menjadi nama “Beras Basah”.

Ikon Wisata dengan Nilai Historis

Hingga saat ini, gundukan pasir yang kini telah berkembang menjadi pulau cantik itu tetap menjadi primadona pariwisata. Para pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan alam, tetapi juga sering kali dibuat penasaran dengan asal-usul namanya yang unik.

Keberadaan cerita rakyat ini memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata Kota Bontang. Pulau Beras Basah kini berdiri sebagai simbol ketangguhan para pelaut nusantara sekaligus bukti kedekatan kultural antara masyarakat Kalimantan Timur dengan para pendatang dari Sulawesi.

Seorang tokoh pemuda di Bontang Kuala mengungkapkan bahwa menjaga keaslian cerita ini adalah kewajiban generasi sekarang agar identitas lokal tetap terjaga di tengah modernisasi. Ia menilai, keindahan fisik pulau akan terasa lebih bermakna jika dibarengi dengan pemahaman sejarahnya.

“Bagi kami, Beras Basah adalah pengingat tentang sejarah perdagangan nenek moyang dan gundukan pasir yang menyelamatkan harapan mereka,” pungkasnya.

Bagikan: