TRIBUN KALTIM – Suasana haru menyelimuti program spesial Wanna One Go Back to Base saat Park Jihoon bertemu kembali dengan Lai Kuanlin. Pertemuan emosional ini menandai kembalinya kebersamaan mereka setelah tujuh tahun terpisah sejak grup tersebut dibubarkan pada Rabu (6/5/26).
Park Jihoon tidak dapat menahan air matanya ketika melihat kondisi dan perubahan hidup sang adik terkecil di Beijing. Ia tampak sangat tersentuh saat menyadari bahwa meskipun sudah lama tidak bertemu ikatan persaudaraan di antara mereka tetap terjaga dengan sangat kuat.
Cerita Kesepian di Balik Karier Sutradara
Dalam pertemuan itu Kuanlin membagikan kisah perjuangannya saat memutuskan berhenti sebagai idola dan memilih jalur sutradara film. Ia mengaku sempat melewati masa-masa yang sangat sunyi dan penuh tekanan saat harus berjuang sendirian di negeri orang tanpa kehadiran rekan-rekannya.
Keputusan Kuanlin untuk hidup sebagai pekerja kantoran biasa di perusahaan film ternyata menyimpan banyak cerita duka. Ia seringkali harus menahan rasa rindu yang mendalam pada masa keemasan mereka saat masih bersama sebagai grup idola di Korea Selatan.
Park Jihoon yang mendengarkan curahan hati tersebut terus mendekap sahabatnya sebagai bentuk dukungan moral yang nyata. Ia merasa bangga sekaligus sedih melihat kedewasaan Kuanlin yang harus menghadapi kerasnya industri perfilman di usia yang masih sangat muda.
Keharuan semakin memuncak saat Jihoon menyadari sebuah tato permanen di tangan Kuanlin yang bertuliskan tanggal debut mereka. Hal itu menjadi bukti otentik bahwa memori sebagai anggota grup tidak pernah dihapus dari ingatan pria asal Taiwan tersebut meski profesinya kini sudah berbeda.
Reuni singkat namun bermakna ini sekaligus mengobati rasa haus para penggemar yang telah lama menantikan kehadiran formasi lengkap mereka. Momen kebersamaan ini menunjukkan bahwa kesuksesan individu tidak akan pernah mampu menggantikan hangatnya keluarga besar yang terbentuk sejak masa kompetisi dahulu.
“Melihatmu melalui masa sulit itu sendirian membuat hatiku sangat hancur namun aku bangga padamu,” kata Park Jihoon sambil terisak.






