TRIBUN KALTIM – Peluncuran album studio terbaru LE SSERAFIM yang bertajuk PUREFLOW kini dibayangi oleh isu tidak sedap di kalangan penggemar musik Korea. Meski belum resmi dipasarkan, rangkaian promosi visual yang diunggah justru memicu perdebatan sengit mengenai orisinalitas konsep tersebut.
Source Music diketahui mulai merilis sejumlah gambar teaser dan trailer konsep pada pekan ini untuk menyambut kehadiran album baru tersebut, Rabu (13/5/26). Namun visual yang mengusung estetika horor dongeng yang gelap itu langsung memicu reaksi negatif dari publik.


Banyak penggemar menilai bahwa atmosfer dan elemen visual yang ditampilkan memiliki kemiripan yang sangat mencolok dengan konsep milik grup senior Red Velvet. Hal ini menyebabkan munculnya tuduhan plagiarisme yang kini tengah viral di berbagai platform media sosial.
Perdebatan Estetika Horor Dongeng
Publik menyoroti bahwa Red Velvet merupakan grup yang sudah sangat identik dengan konsep horor dongeng selama bertahun-tahun di industri K-Pop. Sebagian netizen merasa bahwa eksekusi visual dalam teaser PUREFLOW tersebut terlalu mirip untuk dianggap sebagai sebuah kebetulan belaka.
Kritik yang mengalir tidak hanya soal kemiripan, namun juga membandingkan kualitas eksekusi antara kedua grup tersebut di bawah naungan agensi masing-masing. Mereka mempertanyakan apakah LE SSERAFIM mampu memenuhi standar estetika yang sebelumnya telah dipopulerkan oleh Red Velvet.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi plagiarisme visual yang kerap melibatkan beberapa nama besar di industri musik global belakangan ini. Para penggemar kini terbagi menjadi dua kubu dalam menanggapi kemiripan konsep yang dinilai sangat identik tersebut.
“Sebagian penggemar merasa kemiripan tersebut terlalu jelas untuk diabaikan,” tulis laporan terkait respon netizen di media sosial.
Isu ini diharapkan dapat menjadi perhatian serius bagi pihak manajemen dalam menjaga keunikan identitas setiap grup asuhannya di tengah persaingan pasar yang ketat. Hingga saat ini diskusi mengenai batas antara inspirasi dan peniruan masih terus bergulir di komunitas online.
“Sebagian lainnya mempertanyakan apakah eksekusinya mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan Red Velvet,” ujar pengamat musik dalam kolom diskusi.






