TRIBUN KALTIM – Aktris Aurelie Moeremans mengambil langkah berani untuk membuka kembali lembaran lama kehidupannya yang selama ini tersimpan rapat. Ia menuangkan pengalaman pahit masa lalu tersebut ke dalam sebuah buku berjudul Broken Strings.
Karya tulis ini menjadi sorotan karena mengangkat sisi rapuh sang artis yang jarang diketahui publik. Namun ia menegaskan bahwa tujuan utama penerbitan buku ini sama sekali bukan untuk menyerang pihak mana pun.
Aurelie menolak menjadikan karyanya sebagai ajang balas dendam atas apa yang pernah menimpanya. Ia justru ingin belajar memahami perjalanan hidupnya dan berdamai dengan masa lalu tanpa harus membenarkan kesalahan yang terjadi.
Pernyataan ini disampaikannya saat dihubungi awak media pada Rabu (14/1/26).
“Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku. Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah,” tutur Aurelie Moeremans.
Proses Pemulihan Diri
Proses penulisan buku ini diakui memakan waktu bertahun-tahun karena membutuhkan keberanian besar. Bagi perempuan kelahiran Belgia ini menulis menjadi terapi tersendiri untuk menghentikan kebiasaan menyalahkan diri sendiri.
Ia menyadari bahwa banyak kenangan menyakitkan yang kembali muncul ke permukaan saat proses kreatif berlangsung. Namun hal itu justru membuatnya sadar bahwa buku ini adalah bukti keberaniannya menghadapi luka batin.
“Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Jadi buku ini bukan bukti bahwa aku sudah sembuh, tapi bukti bahwa aku berani menghadapi lukanya,” katanya.
Melawan Trauma
Aurelie juga menyoroti bahwa trauma masa lalu ternyata masih mengendap di tubuh dan pikirannya meski sempat dianggap sudah selesai. Ia berharap kejujurannya dalam buku ini bisa menjadi teman bagi orang lain yang mengalami nasib serupa.
Pengalaman buruk saat mencoba bersuara di masa kecil sempat membuatnya trauma untuk bercerita. Kini ia ingin mematahkan rasa takut itu demi merangkul mereka yang merasa sendirian dalam menghadapi masalahnya.
“Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan. Jadi ada trauma untuk bercerita. Tapi seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka,” pungkas Aurelie Moeremans.






