TRIBUN KALTIM – Kebijakan manajemen Belift Lab dalam mengelola karier Ni-ki ENHYPEN memicu kontroversi besar di kalangan penikmat musik K-Pop. Agensi tersebut dituding sengaja membatasi ruang gerak sang artis karena status kewarganegaraannya sebagai warga negara Jepang pada Minggu (1/2/26).
Langkah promosi yang diambil agensi dinilai tidak seimbang dan cenderung merugikan posisi Ni-ki di dalam grup. Penggemar menemukan bukti adanya pemotongan durasi kemunculan hingga minimnya dukungan proyek solo bagi anggota termuda tersebut.
Polemik Kewarganegaraan dalam Industri Hiburan
Dugaan diskriminasi ini mencuat setelah rangkaian promosi terbaru ENHYPEN dianggap lebih mengutamakan anggota berkebangsaan Korea. Strategi Belift Lab yang nampak tidak memberikan porsi adil bagi Ni-ki memicu kemarahan basis massa internasional.
Banyak pihak menilai latar belakang negara asal seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seorang artis untuk berkembang secara profesional. Tekanan kepada manajemen terus mengalir agar mereka segera mengubah pola komunikasi dan distribusi konten bagi seluruh personel.
Hingga saat ini publik masih menunggu klarifikasi terbuka mengenai alasan di balik perbedaan perlakuan yang sangat mencolok tersebut. Transparansi manajemen menjadi kunci utama untuk meredam spekulasi liar mengenai sentimen kebangsaan di internal perusahaan.
Evaluasi Strategi Global Manajemen
Kegagalan agensi dalam merangkul keberagaman anggota grup global ini dianggap sebagai langkah mundur bagi citra perusahaan. Sebagai bagian dari industri yang menyasar pasar dunia, tindakan pilih kasih dinilai sangat tidak profesional dan berisiko tinggi.
Para penggemar mengancam akan melakukan boikot terhadap sejumlah produk atau konten jika agensi tidak menunjukkan perubahan sikap. Manajemen didorong untuk lebih peka terhadap dinamika sensitif yang melibatkan hubungan antarnegara dalam manajemen talenta.
“Manajemen harus segera mengevaluasi strategi promosi mereka dan memastikan setiap anggota mendapatkan kesempatan yang setara tanpa melihat asal negara,” ujar seorang aktivis komunitas penggemar.






