TRIBUN KALTIM – Penyakit kanker mulut kini mengalami pergeseran tren yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia. Gangguan kesehatan yang dahulu identik dengan orang lanjut usia tersebut sekarang mulai menyasar generasi muda.
Banyak faktor yang melatarbelakangi lonjakan kasus mematikan ini pada kelompok usia produktif. Kebiasaan merokok serta tren penggunaan rokok elektrik atau vape disinyalir menjadi pemicu utama kerusakan sel di dalam rongga mulut.
Ahli onkologi bedah Amit Chakraborty menjelaskan bahwa pasien berusia 25 hingga 45 tahun kini mendominasi temuan kasus baru. Kondisi ini dipicu oleh tingginya paparan zat kimia dari rokok konvensional maupun vape yang sering dikonsumsi saat bersosialisasi.
“Sekarang, ada tren mengkhawatirkan tentang meningkatnya kanker mulut pada perokok muda dan pengguna vape berusia 25 sampai 45 tahun,” kata Amit Chakraborty Minggu (31/5/26).
Bahaya Pengabaian Gejala Dini
Sebagian besar anak muda kerap mengabaikan tanda awal seperti gusi berdarah atau sariawan karena menganggapnya sebagai hal biasa. Padahal luka di area mulut yang tidak kunjung sembuh dalam dua minggu bisa menjadi indikasi awal keganasan.
Kondisi stres yang tinggi dan buruknya higienitas rongga mulut juga ikut memperparah risiko keterjangkitan penyakit ini. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan medis secara berkala sangat diperlukan guna mendeteksi ancaman sejak fase awal.
Ahli medis tersebut menegaskan pentingnya mengambil langkah preventif dengan menghentikan segala bentuk konsumsi produk tembakau. Tindakan cepat ini sangat krusial untuk menekan angka kematian dan meningkatkan kualitas hidup generasi muda.
“Sangat penting untuk menghentikan konsumsi tembakau dan mencegah kanker mulut,” kata dia.






