TRIBUN KALTIM – Aktivitas media sosial personel KATSEYE yakni Manon memicu kegemparan di kalangan netizen global setelah kedapatan menyukai unggahan sensitif di Instagram. Langkah tersebut dianggap sebagai kode keras mengenai adanya praktik diskriminasi rasial yang dialami sang idola di lingkungan kerja. Senin (23/2/26).
Unggahan yang disukai Manon secara spesifik membahas mengenai rasisme sistemik dan perlakuan tidak adil dari label musik terhadap artis minoritas. Tindakan ini mencuat di tengah masa hiatus sang penyanyi yang hingga kini belum mendapatkan penjelasan transparan dari pihak perusahaan.

Isyarat Ketidakadilan di Balik Layar
Aksi diam Manon melalui fitur menyukai unggahan tersebut dipandang publik sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan internal manajemen. Netizen menilai idola asal Swiss ini sedang berusaha menyuarakan keresahannya mengenai standar ganda yang diterapkan oleh label global tersebut.
Banyak penggemar mulai mengaitkan kondisi kesehatan mental yang menjadi alasan hiatus Manon dengan lingkungan kerja yang tidak inklusif. Dugaan adanya intimidasi atau pengabaian berdasarkan latar belakang ras kini menjadi topik hangat yang terus bergulir di berbagai platform diskusi digital.
Desakan Transparansi Manajemen Global
Gelombang protes kini mengarah pada HYBE dan Geffen Records agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem manajemen artis mereka. Publik menuntut jaminan keamanan dan kesetaraan bagi seluruh anggota grup yang mengusung tema keberagaman internasional tersebut.
Hingga saat ini pihak manajemen belum memberikan pernyataan resmi terkait sinyal keresahan yang ditunjukkan oleh artisnya secara publik. Ketidakhadiran Manon dalam aktivitas grup dalam waktu lama semakin memperkuat dugaan adanya konflik mendalam terkait isu hak asasi manusia di dalam perusahaan.
“Tindakan menyukai unggahan tentang rasisme itu adalah cara Manon menunjukkan kebenaran yang tidak bisa ia katakan secara langsung,” ungkap salah satu pendiri komunitas penggemar internasional.
“Kami berdiri bersama Manon dan menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas segala bentuk perlakuan diskriminatif yang mungkin terjadi selama ini,” tegasnya.






