TRIBUN KALTIM – Pertarungan hukum sengit antara HYBE dan Min Hee Jin akhirnya menemui titik akhir. Pengadilan Distrik Pusat Seoul secara resmi menolak seluruh gugatan perusahaan raksasa tersebut terkait pembatalan perjanjian pemegang saham.
Majelis hakim justru memerintahkan HYBE membayar kompensasi senilai 25,5 miliar Won atau setara Rp 300 miliar kepada Min. Hakim menilai alasan HYBE memberhentikannya dari kursi pimpinan agensi lamanya tidak memiliki dasar yang kuat.
Tudingan bahwa wanita tersebut berusaha merebut kendali manajemen sama sekali tidak dianggap sebagai pelanggaran berat. Selain dirinya mantan wakil dan direktur agensi juga berhak menerima ganti rugi miliaran Won.
Menyikapi kemenangan telaknya ia merasa sangat bersyukur karena keadilan akhirnya ditegakkan setelah proses hukum yang panjang.
“Saya dengan tulus berterima kasih kepada hakim karena menilai benar dan salah secara adil pada Kamis (12/2/26),” ungkap Min.
Hak Kreator Harus Dilindungi
Ia juga merefleksikan perseteruan selama hampir dua tahun ini sebagai pelajaran berharga. Pengalaman pahit tersebut menyadarkannya betapa ia sangat mencintai pekerjaannya dalam menciptakan budaya pop.
Min berharap kasus yang menyeret namanya ini bisa menjadi teguran keras bagi industri musik Korea Selatan. Perusahaan besar dituntut untuk lebih menghargai kesepakatan tertulis dan melindungi esensi penciptaan karya seni.
“Saya berharap keputusan ini menjadi pengingat tentang betapa seriusnya sebuah kontrak dan janji,” ujar dia.
Kini ia mengaku siap membuka lembaran baru dan fokus meracik karya lewat agensi barunya bernama OOAK Records. Ia berjanji akan kembali menginspirasi banyak orang tanpa harus memikirkan konflik masa lalu.
“Saya ingin mengakhiri perselisihan yang melelahkan dalam hidup saya,” tegas Min Hee Jin.






