Studi Buktikan Dampak Buruk Orang Tua Pilih Kasih Bisa Bertahan Seumur Hidup

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Bayangkan sebuah kejadian sederhana di meja makan. Dua orang saudara tidak sengaja menumpahkan segelas susu.

Sang kakak hanya diminta untuk lebih berhati-hati lain kali. Sementara sang adik mendapat omelan panjang yang berlangsung sepanjang malam.

Bertahun-tahun kemudian, kedua anak itu masih mengingat momen tersebut dengan jelas. Bukan karena susu yang tumpah, melainkan karena pesan tersirat yang menyakitkan di baliknya.

Banyak keluarga percaya bahwa cinta kasih orang tua terbagi rata untuk semua anak. Namun penelitian membuktikan bahwa dalam praktiknya hal tersebut sering kali tidak terjadi.

Anak yang merasa kurang difavoritkan terbukti lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Hubungan keluarga yang tegang dan pencapaian akademis yang rendah sering menjadi dampak lanjutannya.

Dampak emosional ini tidak serta-merta hilang begitu mereka beranjak dewasa. Sebuah studi jangka panjang menemukan fakta mengejutkan tentang persepsi anak terhadap kasih sayang orang tua.

Keyakinan seorang anak dewasa apakah mereka difavoritkan atau tidak, memprediksi kesehatan mental mereka lebih kuat daripada faktor lain. Hal ini bahkan mengalahkan pengaruh status pernikahan, pekerjaan, atau usia.

“Anda dapat berbicara dengan orang dewasa yang lebih tua dan mereka akan memberi tahu Anda apa yang terjadi ketika mereka berusia 5 tahun. Mereka terjebak pada hal itu,” ungkap Laurie Kramer, peneliti hubungan saudara dari Northeastern University, seperti dikutip Kamis (25/12/2025).

Persepsi Lebih Penting dari Niat

Penelitian juga menggarisbawahi bahwa niat orang tua jauh lebih tidak penting dibandingkan persepsi anak itu sendiri. Sering kali orang tua dan anak memiliki pandangan yang bertolak belakang tentang adanya favoritisme.

Karena orang tua jarang membicarakan dinamika ini secara terbuka, kesalahpahaman tersebut mengeras menjadi luka emosional jangka panjang. J. Jill Suitor, profesor dari Purdue University, menemukan bahwa sekitar dua pertiga ibu menunjukkan preferensi yang jelas.

Anak perempuan dan saudara yang lebih muda cenderung lebih sering mendapatkan perlakuan istimewa. Kepribadian anak yang penurut dan memiliki kesamaan nilai agama atau politik juga menjadi faktor penentu.

Biaya emosional dari favoritisme ini melukai kedua belah pihak. Anak yang tidak difavoritkan berisiko tinggi mengalami kecemasan, depresi, dan keterasingan dari keluarga.

Sementara anak emas sering kali memikul beban rasa bersalah dan tekanan ekspektasi berlebih. Yang paling menyedihkan, waktu ternyata tidak banyak membantu menyembuhkan rasa sakit tersebut.

Suitor menemukan bahwa dampak favoritisme pada orang berusia 60-an tahun sama kuatnya dengan yang dirasakan puluhan tahun sebelumnya. Luka batin itu tetap bertahan meski orang tua mereka telah tiada.

“Ini adalah keterikatan yang sangat dalam dan kita miliki sepanjang hidup kita. Mereka adalah orang yang Anda rasa seharusnya paling mencintai Anda,” kata Suitor menutup penjelasannya.

Bagikan: