TRIBUN KALTIM – Fenomena kecanduan video pendek seperti Instagram Reels kini menjadi ancaman serius bagi perkembangan kognitif remaja. Melansir The Times of India, paparan konten berdurasi singkat secara terus-menerus dapat mengubah cara kerja otak dalam memproses informasi.
Otak remaja yang masih dalam tahap perkembangan sangat rentan terhadap lonjakan dopamin cepat yang ditawarkan oleh algoritma media sosial. Kebiasaan menggulir layar tanpa henti melatih otak untuk menuntut stimulasi instan setiap beberapa detik.
Hal ini menciptakan pola pikir yang tidak sabaran dan sulit diajak untuk tenang. Akibatnya kemampuan mereka untuk mempertahankan fokus pada satu hal menjadi sangat lemah.
“Aliran video pendek yang menarik secara konstan mengondisikan otak untuk mengharapkan kepuasan instan Senin (29/12/2025).”
Krisis Konsentrasi Belajar
Dampak paling nyata terlihat saat remaja dihadapkan pada tugas yang memerlukan ketekunan mental seperti membaca buku atau mengerjakan pekerjaan rumah. Aktivitas lambat ini akan terasa jauh lebih membosankan dibandingkan kilatan visual di layar ponsel.
Otak yang terbiasa dengan hiburan 15 detik akan kesulitan memproses narasi panjang atau materi pelajaran yang kompleks. Penurunan rentang perhatian ini secara langsung dapat memukul prestasi akademik mereka di sekolah.
Para ahli memperingatkan bahwa jika dibiarkan hal ini akan membentuk generasi yang enggan berpikir mendalam. Kemampuan literasi dan analisis kritis bisa tergerus oleh kebiasaan mengonsumsi konten receh.
“Remaja mungkin merasa semakin sulit untuk terlibat dalam aktivitas yang memerlukan perhatian berkelanjutan seperti membaca buku atau belajar.”






