Kesalahan Fatal Orangtua Baru: Fokus Mendiamkan Tangisan, Bukan Emosinya

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Menghadapi anak yang tiba-tiba berteriak atau berguling di lantai bisa menjadi mimpi buruk bagi orangtua baru. Reaksi spontan yang sering muncul biasanya adalah panik dan segera menyuruh anak untuk diam.

Dilansir dari The Times of India, fokus untuk mendiamkan tangisan ternyata merupakan strategi yang keliru. Tantrum sebenarnya bukan bentuk kenakalan melainkan tanda bahwa anak sedang mengalami kelebihan muatan emosi.

Kalimat larangan menangis justru dianggap mengabaikan perasaan si kecil. Hal ini membuat pesan yang ingin disampaikan anak tidak tersampaikan dan memperburuk situasi.

“Ungkapan berhenti menangis membatalkan emosi mereka. Mengabaikan pesan mereka membuat masalah menjadi lebih sulit Senin (29/12/2025).”

Validasi Perasaan Anak

Para ahli menyarankan orangtua untuk mengubah pendekatan verbal mereka saat situasi memanas. Alih-alih membentak atau menyuruh diam, cobalah untuk mengakui perasaan mereka terlebih dahulu.

Katakan kepada anak bahwa Anda menyadari mereka sedang kesal atau marah. Rasa dimengerti ini akan menciptakan rasa aman yang membuat anak lebih mudah menerima batasan.

Validasi emosi terbukti tidak akan memanjakan anak atau memperpanjang drama. Justru langkah ini efektif memangkas durasi tantrum karena anak merasa didengar.

“Mengenali perasaan anak-anak sangat penting. Saya perhatikan kamu kesal. Ini membantu mereka merasa dimengerti.”

Ketenangan Orangtua Adalah Kunci

Penting untuk diingat bahwa anak-anak cenderung meniru emosi orang dewasa di sekitarnya. Jika orangtua merespons dengan teriakan atau kemarahan maka tantrum anak akan semakin menjadi-jadi.

Menjaga ketenangan diri sendiri adalah langkah awal sebelum menenangkan anak. Tidak masalah jika orangtua merasa bingung atau lelah dalam proses belajar ini.

“Orangtua yang baru pertama kali punya anak juga sedang belajar. Tidak apa-apa jika Anda merasa frustrasi atau tidak yakin.”

Bagikan: