Dunia Nyata Kalah, Remaja Kita Habiskan Waktu Lebih Lama di Dunia Maya

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Fenomena kehidupan remaja masa kini semakin didominasi oleh aktivitas di ruang digital. Interaksi tatap muka di dunia nyata perlahan mulai tergerus oleh pesona dunia maya yang menawarkan konektivitas tanpa batas.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII mencatat angka partisipasi digital yang fantastis dalam laporan terbarunya. Sebanyak 171,17 juta penduduk telah terhubung dengan internet atau mencapai 64,8 persen dari total populasi.

Dari jumlah masif tersebut kelompok remaja berusia 15 hingga 19 tahun menduduki peringkat teratas sebagai pengguna terbanyak. Mereka seolah telah menjadikan internet sebagai kebutuhan primer dalam keseharian yang sulit dilepaskan.

Data menunjukkan bahwa rata-rata durasi penggunaan media sosial masyarakat Indonesia menyentuh angka enam jam per hari. Angka ini menempatkan kebiasaan tersebut dalam kategori penggunaan lama yang berkisar antara 5 hingga 6 jam.

Padahal durasi tersebut sudah melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan oleh para ahli kesehatan. Penelitian University of Oxford menyebutkan batas ideal aktivitas daring hanyalah 257 menit atau sekitar 4 jam 17 menit sehari.

Ancaman Stres dan Kesehatan Mental

Kesenjangan durasi penggunaan ini memicu dampak serius pada pola istirahat generasi muda. Pada masa remaja akhir terjadi pergeseran irama sirkadian atau jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun.

Kebiasaan menatap layar gawai hingga larut malam memperparah pergeseran waktu istirahat tersebut. Hal ini sering kali berujung pada keluhan insomnia, sakit kepala, hingga kesulitan berkonsentrasi saat beraktivitas siang hari.

Masalah tidur ini tidak berdiri sendiri melainkan berkaitan erat dengan kondisi psikologis penggunanya. Tekanan atau stres pada masa pertumbuhan memicu lonjakan hormon epinefrin dan kortisol dalam tubuh.

Peningkatan hormon ini memengaruhi susunan saraf pusat agar tetap terjaga dan waspada sepanjang waktu. Akibatnya remaja semakin sulit untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik meski tubuh sebenarnya sudah lelah.

Kualitas tidur yang buruk membawa efek domino yang merugikan kesehatan fisik dan mental secara jangka panjang. Remaja menjadi lebih rentan mengalami kecelakaan fisik, gangguan memori, hingga risiko obesitas.

Penggunaan gawai yang berlebihan terbukti secara ilmiah memiliki korelasi negatif terhadap fungsi kognitif. Batas waktu yang dilanggar setiap harinya perlahan menggerogoti kemampuan otak untuk bekerja optimal.

“Jika di atas 4 jam 17 menit, maka gadget mampu mengganggu kinerja otak seseorang,” tulis hasil penelitian University of Oxford.

Bagikan: