TRIBUN KALTIM – Gejolak geopolitik di Timur Tengah membuat para investor global berada dalam persimpangan jalan untuk mengamankan kekayaan mereka. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu perdebatan sengit mengenai instrumen penyelamat yang paling tangguh antara emas atau dolar Amerika Serikat pada Kamis (5/3/26).
Ketegangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat telah merontokkan kepercayaan pasar terhadap aset berisiko seperti saham. Dalam situasi kacau seperti ini, emas biasanya menjadi pilihan utama karena sifatnya yang tahan terhadap gempuran inflasi global.
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat juga menunjukkan taji sebagai mata uang cadangan dunia yang paling dicari saat krisis pecah. Investor kini dipaksa memilih antara memegang uang tunai yang likuid atau beralih ke logam mulia sebagai pelindung nilai jangka panjang.
Dilema Safe Haven Antara Logam dan Kertas
Para analis keuangan melihat bahwa emas memiliki keunggulan psikologis yang jauh lebih kuat dibandingkan mata uang kertas saat perang terbuka mengancam. Blokade jalur logistik energi dunia dipastikan akan melambungkan harga minyak dan menggerus daya beli mata uang di hampir seluruh negara.
Namun, obligasi pemerintah Amerika Serikat yang biasanya dianggap sebagai tempat persembunyian paling aman kini justru mulai dipertanyakan efektivitasnya. Hal ini terjadi karena kekhawatiran pasar terhadap beban utang Washington yang terus membengkak demi membiayai operasi militer di kawasan teluk.
Kecenderungan arus modal saat ini mulai bergeser pada aset fisik yang dianggap memiliki nilai murni tanpa risiko gagal bayar dari pihak manapun. Kelangkaan pasokan barang akibat terganggunya rantai pasok global membuat kepemilikan aset finansial menjadi pilihan yang sangat berisiko bagi institusi besar.
“Logam mulia tetap menjadi satu-satunya aset yang tidak membawa risiko kredit dari pihak lain,” kata George Milling-Stanley.






