TRIBUN KALTIM – Keputusan kapal kargo Mayuree Naree milik Thailand untuk tetap melintasi Selat Hormuz berakhir tragis setelah sebuah proyektil menghantam lambung kapal hingga memicu ledakan hebat. Kapal tersebut tetap melanjutkan pelayaran di tengah zona merah perseteruan Iran dan Israel karena tuntutan logistik dan jadwal pengiriman komoditas global yang sangat ketat, Rabu (11/3/26).
Insiden ini memperlihatkan risiko besar yang harus diambil oleh industri pelayaran sipil demi menjaga kelancaran rantai pasok dunia. Meskipun peringatan keamanan telah dikeluarkan pihak berwenang namun kapal tersebut tetap menembus jalur maut yang menjadi urat nadi perdagangan minyak tersebut.
Risiko Jalur Logistik
Banyak perusahaan pelayaran internasional terjebak dalam dilema antara biaya operasional yang membengkak atau risiko keamanan yang mengancam nyawa. Jika kapal memilih jalur memutar di luar Selat Hormuz maka biaya bahan bakar dan waktu tempuh akan melonjak hingga dua kali lipat.
Mayuree Naree menjadi satu dari sekian banyak kapal yang mencoba peruntungan dengan melintas saat eskalasi militer antar kedua negara sedang berada di titik puncak. Sayangnya proyektil yang diduga salah sasaran itu justru mengenai bagian vital kapal hingga menyebabkan kebakaran hebat yang tidak terkendali.
Otoritas keamanan maritim menyebutkan bahwa kapal kargo ini tidak memiliki sistem pertahanan udara mandiri karena statusnya sebagai kapal komersial. Hal ini membuatnya menjadi sasaran yang sangat rentan di tengah hujan proyektil yang diluncurkan oleh pihak yang bertikai di kawasan tersebut.
Dampak Bagi Awak Kapal
Kebutuhan ekonomi perusahaan seringkali memaksa para pelaut untuk tetap bekerja di wilayah yang sudah dinyatakan sebagai zona perang. Kondisi ini memicu kritik keras dari berbagai organisasi pelaut internasional yang menuntut jaminan keamanan lebih bagi warga sipil di laut.
Pasca ledakan sebanyak 20 awak kapal harus berjuang menyelamatkan diri dengan melompat ke laut menggunakan sekoci darurat. Sementara itu upaya pencarian terhadap tiga rekan mereka yang hilang masih terus dilakukan di tengah puing kapal yang masih membara.
“Perusahaan pelayaran harus memprioritaskan nyawa pelaut di atas jadwal pengiriman barang terutama saat situasi konflik memanas,” ujar salah satu pengamat maritim internasional.






