TRIBUN KALTIM – Masyarakat Indonesia kerap merasa heran saat memasuki periode Juli hingga Agustus karena suhu udara justru terasa menggigil di tengah puncak kemarau. Fenomena alam ini terjadi akibat pengaruh kuat pergerakan angin muson Australia atau muson timur yang membawa massa udara dingin ke nusantara.
Pergerakan angin tersebut dipicu oleh posisi matahari yang saat ini berada di belahan bumi utara sehingga menciptakan tekanan udara tinggi di daratan Australia. Aliran udara dari benua Australia yang sedang mengalami musim dingin kemudian mengalir masuk ke wilayah Indonesia, Jumat (8/5/26).
Suhu di Indonesia akan mencapai titik terendahnya saat Australia berada pada puncak musim dingin yang biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Angin yang bersifat kering dan dingin ini menjadi faktor utama yang menurunkan suhu udara di berbagai wilayah tanah air secara merata.
Karakteristik Musim Bediding
Kondisi dingin yang menusuk terutama pada malam hingga pagi hari ini populer dengan istilah musim bediding di tengah masyarakat. Fenomena ini dicirikan dengan penampakan langit biru bersih pada siang hari serta pemandangan langit penuh bintang tanpa awan saat malam tiba.
Absennya awan di langit membuat permukaan bumi kehilangan pelindung yang biasanya berfungsi memerangkap panas matahari di atmosfer. Akibatnya energi panas yang diserap bumi pada siang hari akan langsung dilepaskan kembali ke luar angkasa secara maksimal pada malam hari.
“Angin monsun Australia yang dingin ikut mengalir masuk ke Indonesia menyebabkan suhu turun dan biasa disebut musim bediding,” tulis penjelasan dalam naskah tersebut.
Dampak dari aliran udara dingin ini terasa paling signifikan bagi penduduk yang bermukim di wilayah selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara. Hal ini dikarenakan posisi wilayah-wilayah tersebut secara geografis berada lebih dekat dengan pusat tekanan tinggi di benua Australia.
“Pada siang hari wilayah selatan seperti Sumatera Selatan, Jawa bagian selatan hingga Bali, NTT dan NTB masih bisa terasa dingin karena relatif dekat dengan Australia,” ungkap laporan fenomena iklim tersebut.






