TRIBUN KALTIM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 12 Universitas Alma Ata menggelar sosialisasi dan edukasi kesehatan mengenai penyakit leptospirosis kepada masyarakat Desa Pinggir Kabupaten Bantul pada Minggu, 22 Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB di Pendopo Padukuhan Pinggir, kediaman Dukuh setempat. Edukasi tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko, gejala, serta langkah pencegahan penyakit yang berpotensi muncul di lingkungan pedesaan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat semakin waspada terhadap ancaman penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKN Dita Danianti, S.Kom., M.Kom, yang dilaksanakan oleh mahasiswa lintas program studi di Universitas Alma Ata, yakni S1 Farmasi, S1 Sistem Informasi, S1 Teknik Informatika, dan S1 Pendidikan Matematika. Mereka memberikan pemaparan materi kesehatan secara langsung kepada warga dengan pendekatan edukatif agar informasi mudah dipahami oleh masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui urine hewan yang terinfeksi seperti tikus yang mencemari air, tanah, maupun lingkungan sekitar.
“Leptospirosis dapat menular ketika bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka, kulit yang lecet, atau melalui selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut,” jelas mahasiswa KKN Universitas Alma Ata saat memberikan materi kepada warga.
Mereka juga menjelaskan bahwa kondisi lingkungan yang lembap, adanya genangan air, serta aktivitas masyarakat yang sering bersentuhan dengan tanah atau air menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut.
Selain menjelaskan penyebab dan cara penularan, mahasiswa KKN juga mengedukasi masyarakat mengenai gejala yang perlu diwaspadai. Beberapa gejala leptospirosis antara lain demam tinggi yang muncul secara mendadak, menggigil, sakit kepala, nyeri otot terutama pada bagian betis dan paha, mual, muntah, hingga diare.
“Apabila gejala tersebut tidak segera ditangani, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius sehingga penting bagi masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ujar pemateri dalam kegiatan tersebut.
Mahasiswa KKN juga menekankan pentingnya langkah pencegahan sebagai upaya utama mengurangi risiko penyebaran penyakit. Warga dianjurkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan mengelola sampah secara baik, membersihkan saluran air, serta menghindari keberadaan tikus di sekitar rumah.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk mencuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas, menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boots dan sarung tangan saat bekerja di lingkungan basah atau kotor, serta menutup luka dengan perban agar tidak menjadi pintu masuk bakteri.
Kegiatan sosialisasi ini mendapat respons positif dari masyarakat Desa Pinggir yang hadir di Pendopo Padukuhan Pinggir. Warga mengikuti kegiatan dengan antusias dan aktif menyimak materi yang disampaikan oleh mahasiswa.
Mahasiswa KKN Universitas Alma Ata berharap kegiatan edukasi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta lebih waspada terhadap penyakit leptospirosis.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga berharap upaya preventif di tingkat masyarakat dapat berjalan lebih efektif sehingga lingkungan Desa Pinggir tetap sehat dan aman bagi seluruh warganya.






