TRIBUN KALTIM TERNATE – Momen pulang kampung tidak selamanya berakhir manis bagi pesepak bola profesional saat harus menghadapi tim tanah kelahirannya. Hal ini dirasakan betul oleh penyerang sayap andalan Borneo FC Samarinda Muhammad Sihran.
Ia harus menelan kekecewaan mendalam saat timnya bertandang ke markas Malut United di Stadion Gelora Kie Raha Ternate. Pertandingan lanjutan kompetisi domestik yang digelar pada Minggu (28/12/2025) sore itu berakhir dengan kekalahan bagi skuat Pesut Etam.
Pemain asli kelahiran Ternate ini mengaku sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya di hadapan publik sendiri. Namun ia menyadari kerja keras tim belum cukup untuk membawa pulang hasil maksimal dari laga tandang tersebut.
Janji untuk Bangkit
Sihran menegaskan timnya tidak akan larut dalam kesedihan dan siap segera memperbaiki performa demi mengejar target juara. Ia memastikan seluruh pemain akan terus berjuang hingga kompetisi berakhir.
“Kita terus belajar dari kesalahan yang kita perbuat dan tetap fight sampai Super League selesai dengan target kita sendiri.”
Sementara itu pelatih Borneo FC Fabio Lefundes menilai anak asuhnya sebenarnya tampil cukup dominan dalam menguasai jalannya laga. Skuat Pesut Etam bahkan mampu mencetak dua gol dan menciptakan banyak peluang berbahaya di depan gawang lawan.
Namun juru taktik asal Brasil itu menyayangkan adanya kesalahan sendiri yang dilakukan pemain sehingga poin penting harus melayang. Menurutnya tim papan atas tidak boleh melakukan blunder jika ingin menjaga asa juara.
“Kita lakukan satu pertandingan bagus. Tapi kita bikin beberapa kesalahan fatal dan itu seharusnya gak bisa terjadi kalau mau tetap di papan atas.”
Sorotan Kinerja Wasit
Selain faktor internal Lefundes juga menyoroti kepemimpinan pengadil lapangan yang dinilai kurang jeli dalam mengambil keputusan krusial. Ia merasa timnya sangat dirugikan terutama pada proses terjadinya gol ketiga lawan yang dianggap didahului pelanggaran.
Sang pelatih mendesak agar penggunaan teknologi Video Assistant Referee atau VAR bisa lebih dimaksimalkan demi keadilan kompetisi. Ia berharap operator liga dan wasit lebih teliti agar tidak ada tim yang merasa dicurangi.
“Karena kita pada gol ketiga ada dua aksi yang menurut kita adalah pelanggaran, untuk itu ada VAR supaya sepak bola Indonesia itu maju dan kita tetap fair.”






