TRIBUN KALTIM – Kegiatan pertanian di Kota Tarakan kini memiliki makna lebih dari sekadar upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Aktivitas bercocok tanam yang digagas oleh Komunitas Antar Etnis Indonesia Bersatu menjadi simbol nyata kerukunan masyarakat di tengah keberagaman Kalimantan Utara.
Pemerintah Provinsi Kaltara memberikan apresiasi khusus terhadap inisiatif yang mempertemukan berbagai latar belakang suku dalam satu lahan garapan ini. Semangat kebersamaan tersebut terlihat jelas saat warga bahu-membahu menanam jagung di lahan seluas satu hektare di Kelurahan Juata Kerikil.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Yosua Batara Payangan, menilai kegiatan ini sebagai implementasi konkret dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sektor pertanian terbukti efektif menjadi perekat sosial yang menyatukan warga tanpa memandang perbedaan identitas.
“Atas nama pemerintah provinsi, kami sangat mengapresiasi kekompakan yang ditunjukkan oleh saudara-saudara kita dari berbagai suku ini,” ungkap Yosua di sela kegiatan, Kamis (22/1/26).
Simbol Persatuan Daerah
Pemanfaatan lahan tidur secara kolektif ini dinilai mampu meredam potensi gesekan sosial dan justru memperkuat rasa persaudaraan. Gotong royong dalam mengelola lahan pertanian menciptakan ruang interaksi positif antarwarga yang majemuk.
Pemprov Kaltara berharap model kerukunan berbasis produktivitas ekonomi seperti ini dapat diduplikasi di wilayah lain. Kolaborasi lintas etnis tidak hanya menghasilkan panen yang melimpah tetapi juga panen kedamaian yang menjaga kondusivitas daerah.
Selain mempererat silaturahmi, kekompakan ini juga menjadi modal sosial yang kuat untuk mendukung pembangunan daerah di masa depan. Persatuan yang dibangun dari akar rumput diyakini akan menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan Kaltara.
“Ini bukti bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk membangun daerah secara bersama-sama,” tutupnya.






