Sering Overthinking Sebelum Tidur? Ternyata Begini Penjelasan Medisnya

Muflihah

TRIBUN KALTIM Fenomena pikiran yang mendadak liar saat kepala menyentuh bantal seringkali dianggap sebagai gangguan kecemasan biasa oleh masyarakat. Namun secara medis kondisi ini merupakan hasil dari aktivitas sistem saraf pusat yang mencoba memproses sisa informasi harian.

Kondisi tersebut biasanya memuncak ketika rangsangan eksternal seperti pekerjaan atau gawai mulai berkurang. Hal ini dijelaskan oleh para peneliti kesehatan saraf pada Minggu (22/3/26).

Saat suasana di sekitar mulai sunyi otak manusia secara otomatis akan kehilangan pengalihan fokus yang didapatkan sepanjang siang. Keadaan ini memaksa organ pemikir tersebut untuk beralih ke dalam diri sendiri guna mengevaluasi memori.

Konflik Sistem Limbik dan Korteks Prefrontal

Bagian otak yang bernama sistem limbik akan memicu kembali ingatan emosional terkait percakapan atau kejadian yang belum tuntas. Pada saat bersamaan korteks prefrontal yang berfungsi sebagai pusat logika berusaha mencari solusi atas simulasi sosial tersebut.

Interaksi antara kedua bagian otak ini sering kali menciptakan siklus pikiran berulang yang dikenal dengan istilah ruminasi. Otak seolah terjebak dalam upaya memperbaiki kesalahan masa lalu yang sebenarnya sudah tidak bisa diubah.

Para ahli menyebut bahwa proses ini merupakan mekanisme pertahanan alami untuk belajar dari pengalaman sosial yang dirasa mengancam. Namun jika frekuensinya terlalu sering hal tersebut justru akan mengganggu ritme sirkadian dan kualitas istirahat.

“Saat stimulasi dari luar hilang maka otak kita akan mulai memproses sisa emosi,” kata pakar kesehatan.

Ia juga menyarankan agar setiap individu mulai mempraktikkan teknik relaksasi untuk memberi sinyal pada sistem saraf. Hal ini bertujuan agar otak memahami bahwa tugas kognitif untuk hari itu telah benar-benar berakhir.

“Penting untuk melatih kesadaran agar siklus pikiran negatif ini bisa segera terhenti,” pungkas dia.

Bagikan: