TRIBUN KALTIM – Perdebatan panas mengenai masa depan kecerdasan buatan atau AI kembali meletup di kalangan petinggi teknologi dunia. Dua tokoh sentral yang berseberangan pendapat kali ini adalah bos Google DeepMind Demis Hassabis dan ilmuwan utama Meta AI Yann LeCun.
Perselisihan ini bermula dari pernyataan kontroversial LeCun dalam sebuah siniar baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa konsep kecerdasan umum buatan atau AGI hanyalah sebuah ilusi belaka.
Menurut LeCun kecerdasan manusia itu sendiri sebenarnya tidak bersifat umum melainkan sangat terspesialisasi untuk dunia fisik. Ia berpendapat bahwa apa yang dianggap orang sebagai kecerdasan umum hanyalah keterbatasan imajinasi manusia terhadap masalah yang tidak terlihat, Rabu (24/12/2025).
Potongan klip pernyataan tersebut menyebar luas di platform X dan memicu reaksi keras dari Demis Hassabis. Peraih Nobel tersebut secara terbuka membantah pandangan LeCun yang dinilainya keliru dalam memahami definisi dasar kecerdasan.
Salah Kaprah Definisi Kecerdasan
Hassabis menilai bahwa LeCun telah mencampuradukkan antara kecerdasan umum dengan kecerdasan universal. Bagi bos Google DeepMind ini otak manusia adalah bukti paling nyata bahwa sistem cerdas yang bersifat umum itu ada di alam semesta.
Ia menjelaskan bahwa dalam teori Mesin Turing sebuah sistem arsitektur umum mampu mempelajari apa saja yang dapat dihitung. Syarat utamanya hanyalah ketersediaan waktu dan memori yang cukup bagi sistem tersebut untuk memproses data.
Otak manusia dan model dasar AI saat ini menurutnya adalah bentuk pendekatan dari Mesin Turing tersebut. Hal ini menjadi landasan optimisme Hassabis bahwa AGI adalah target yang realistis dan bisa dicapai di masa depan.
Bukti Evolusi dan Peradaban
Hassabis kemudian menyoroti argumen LeCun yang meragukan kemampuan generalisasi otak manusia. Ia mencontohkan kemampuan manusia menciptakan permainan catur hingga pesawat terbang jenis 747 sebagai bukti sahih.
Padahal otak manusia pada awalnya hanya berevolusi untuk kebutuhan bertahan hidup seperti berburu dan meramu. Namun kapasitas otak ternyata mampu melampaui batasan evolusi biologis tersebut hingga melahirkan peradaban sains modern.
Kritik tajam Hassabis ini sekaligus menegaskan posisi Google yang tetap optimistis mengejar AGI. Hal ini berbanding terbalik dengan skeptisisme Meta yang lebih fokus pada AI spesifik untuk membantu manusia.
Hassabis menutup argumennya dengan memuji kemampuan adaptasi otak manusia yang luar biasa meski memiliki keterbatasan memori.
“Dia (manusia) mungkin tidak sepenuhnya optimal karena memori terbatas dan waktu terbatas untuk membuat keputusan, tetapi sungguh luar biasa apa yang dapat dia dan kita lakukan dengan otak kita mengingat otak itu berevolusi untuk berburu dan meramu,” ujar Hassabis.






