TRIBUN KALTIM – Kasus pelecehan seksual seringkali menyisakan tanda tanya besar mengapa korban memilih untuk bungkam. Ternyata ada pergulatan batin yang sangat kompleks di balik keputusan berat tersebut.
Efek traumatis yang ditimbulkan membuat korban tidak bisa langsung mengambil sikap tegas. Jumat (2/1/26), studi menunjukkan bahwa korban mengalami berbagai reaksi psikologis mulai dari gejala fisik hingga kecemasan berlebih.
Mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menimbang risiko atau biaya yang harus ditanggung jika melapor. Hal inilah yang sering menyebabkan penundaan panjang dalam penanganan kasus kejahatan seksual.
Dampak fisik atau somatik yang dirasakan korban sangat nyata seperti jantung berdebar dan sesak napas. Rasa sakit fisik dan pusing juga kerap muncul sebagai respons tubuh terhadap trauma yang dialami.
Perubahan perilaku drastis turut terjadi sebagai mekanisme pertahanan diri yang alamiah. Korban cenderung menghindari pelaku hingga mengubah cara berpakaian menjadi lebih tertutup seperti mengenakan celana jeans.
Getty Images
Tujuh Alasan Enggan Melapor
Penelitian mengungkap setidaknya ada tujuh faktor utama yang menghambat korban untuk melapor. Hambatan pertama seringkali berupa keraguan apakah kejadian yang dialaminya termasuk kategori pelecehan atau bukan.
Ketakutan akan terganggunya proses perkuliahan atau pekerjaan menjadi pertimbangan rasional berikutnya. Korban juga cenderung menghindari potensi konflik baru yang mungkin muncul setelah pelaporan.
Ironisnya lingkungan terdekat justru sering menjadi penghalang terbesar. Banyak korban menerima saran dari orang sekitar agar tidak memperpanjang masalah dengan melapor ke pihak berwajib.
Selain itu ketidaktahuan mengenai alur pelaporan hukum membuat posisi korban semakin terjepit. Faktor perilaku meniru orang lain yang juga diam saat menjadi korban turut memperkuat budaya bungkam ini.
Jebakan Menyalahkan Diri Sendiri
Dampak emosional yang paling merusak adalah munculnya perasaan menyalahkan diri sendiri. Korban kerap mengevaluasi diri sebagai pihak yang bersalah atas kejadian nahas tersebut.
Mereka juga merasa marah dan rendah diri akibat hilangnya rasa aman. Peningkatan pelaporan sebenarnya sangat krusial untuk membuka akses pertolongan medis dan pemulihan psikologis.
Kesadaran institusi dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memutus rantai ketakutan ini. Dukungan sosial memegang peran kunci dalam menentukan langkah yang akan diambil oleh penyintas.
“Pengaruh sosial dapat mempengaruhi korban dalam menentukan apa yang harus dilakukan,” ungkap Ruback dalam temuan studinya.






