Analisis Penyebab Banjir Samarinda, Dari Sampah Drainase Hingga Luapan Sungai

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Banjir masih menjadi permasalahan pelik yang menghantui warga Kota Samarinda. Genangan air kerap melumpuhkan aktivitas akibat limpasan permukaan yang tak lagi tertampung oleh badan sungai, Sabtu (3/1/26).

Kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama yakni fenomena alam dan ulah manusia. Faktor alam mencakup tingginya curah hujan serta topografi wilayah yang dipengaruhi pasang surut Sungai Mahakam.

Sementara faktor manusia bersumber pada pertumbuhan penduduk yang memicu kebutuhan infrastruktur. Pembukaan lahan untuk pemukiman dan industri berdampak pada hilangnya area resapan air ke dalam tanah.

Situasi kian parah ketika lapisan tanah tergerus air hujan dan menyebabkan sedimentasi di sungai. Akibatnya kapasitas tampung sungai menurun drastis dan tak mampu menahan debit air.

Pengelolaan sampah yang buruk turut memperburuk keadaan drainase kota. Tumpukan sampah menyumbat saluran air sehingga aliran menuju pembuangan akhir menjadi terhambat.

Tiga Sumber Genangan

Berdasarkan sumbernya genangan di Kota Tepian dibedakan menjadi tiga jenis karakteristik. Pertama adalah banjir kiriman yang datang dari daerah hulu di luar kawasan tergenang.

Fenomena ini sering terjadi di kawasan Jalan Pangeran Antasari akibat luapan dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Manggis. Durasi hujan di hulu selama tiga hingga empat jam cukup untuk menenggelamkan wilayah hilir.

Kedua merupakan banjir lokal yang timbul akibat hujan yang jatuh di daerah itu sendiri. Sistem drainase yang buruk membuat air hujan tidak dapat mengalir lancar dengan ketinggian genangan mencapai 70 sentimeter.

Ketiga adalah banjir akibat pasang Sungai Mahakam yang terjadi secara rutin. Kawasan yang elevasinya di bawah 1,58 meter dari muka air pasang akan terdampak langsung oleh fenomena ini.

Kombinasi hujan deras dan air pasang akan membuat genangan bertahan lebih lama hingga lima jam. Data menunjukkan tren kejadian bencana hidrometeorologi ini terus memburuk dari waktu ke waktu.

“Pada 5 tahun terakhir sesuai data di atas banjir di Kota Samarinda meningkat baik frekuensi maupun besarannya,” tulis laporan analisis tersebut.

Bagikan: