Darurat Lapangan Kerja, Hampir 1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Data Badan Pusat Statistik atau BPS melalui Survei Angkatan Kerja Nasional Februari 2024 mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 871.860 orang bergelar sarjana di Indonesia kini tercatat sebagai pengangguran.

Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Terdapat penambahan lebih dari 100.000 lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan pada periode tersebut.

Kesenjangan Kompetensi

Fenomena ini menegaskan bahwa ijazah perguruan tinggi tidak lagi menjadi tiket otomatis menuju dunia kerja. Banyak lulusan baru tersandung masalah kesiapan teknis yang belum memenuhi standar industri.

Perusahaan kerap mengeluhkan minimnya keterampilan dan pengalaman praktis dari para pelamar bergelar sarjana. Hal ini menciptakan jurang lebar antara capaian akademik di kampus dengan realitas kebutuhan bisnis.

Akibatnya banyak sarjana yang kesulitan menerjemahkan ilmu mereka menjadi kesuksesan karir. Mereka gagap saat dihadapkan pada tuntutan profesional yang jauh berbeda dari teori perkuliahan.

Tekanan Psikologis

Situasi ini memicu dampak mental yang serius bagi para pencari kerja muda. Tingkat stres pada individu yang sudah lulus justru ditemukan lebih tinggi ketimbang saat mereka masih berstatus mahasiswa.

Masalah finansial dan ketidakpastian rencana karir menjadi sumber tekanan utama. Banyak dari mereka merasa kehilangan arah dan kewalahan menghadapi budaya kerja yang asing.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu semakin memperburuk perasaan tidak berdaya tersebut. Lulusan baru sering kali merasa lemah karena gagal menjadi bagian produktif di masyarakat.

Ketimpangan Pasar Kerja

Tingginya angka pengangguran terdidik juga dipicu oleh ketidaksesuaian ketersediaan lapangan kerja. Banyak industri saat ini justru lebih membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan yang lebih rendah.

Hal ini membuat persaingan di level sarjana menjadi sangat ketat dan tidak seimbang. Sempitnya peluang membuat proses pencarian kerja menjadi pengalaman yang melelahkan secara emosional.

“Proses mencari pekerjaan dianggap sulit dan berhubungan dengan emosi negatif oleh orang yang sedang mencari kerja,” ungkap Wanberg dalam studinya.

Bagikan: