Biaya Produksi Membengkak, Nilai Tukar Petani Kaltim Turun 0,30 Persen

Hasyimy

TRIBUN KALTIM – Kesejahteraan petani di Kalimantan Timur mengalami sedikit tekanan pada penghujung tahun 2025. Badan Pusat Statistik setempat mencatat adanya penurunan Nilai Tukar Petani atau NTP pada bulan Desember.

Angka NTP tercatat sebesar 147,89 atau turun 0,30 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan harga jual hasil panen rupanya belum mampu menutupi lonjakan biaya yang harus dikeluarkan petani. Rabu (21/1/26).

Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana mengungkapkan bahwa indeks harga yang harus dibayar petani mengalami peningkatan cukup signifikan. Hal ini didorong oleh naiknya biaya konsumsi rumah tangga serta ongkos produksi dan penambahan barang modal.

Kondisi ini menyebabkan ketimpangan antara pemasukan dan pengeluaran petani. Kenaikan harga hasil produksi pertanian relatif terbatas sehingga daya beli petani secara riil tergerus.

Meskipun demikian kinerja NTP secara tahunan masih menunjukkan tren yang positif. Jika dibandingkan dengan Desember 2024 angka tersebut masih mengalami kenaikan sebesar 1,75 persen.

Sektor Perkebunan Terpukul

Penurunan daya beli ini paling dirasakan oleh petani di subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun tajam 1,13 persen. Selain itu subsektor perikanan dan tanaman pangan juga mengalami koreksi masing-masing 0,34 persen dan 0,03 persen.

Sebaliknya petani hortikultura justru menikmati masa panen yang menguntungkan dengan kenaikan NTP mencapai 3,62 persen. Subsektor peternakan juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,78 persen.

Senada dengan NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian atau NTUP juga ikut melandai. Indikator yang mengukur kemampuan usaha tani tanpa memperhitungkan konsumsi rumah tangga ini turun 0,13 persen menjadi 153,93.

Yusniar menegaskan bahwa penurunan ini murni disebabkan oleh laju indeks harga bayar yang lebih cepat daripada indeks harga terima.

“Indeks Harga yang Diterima Petani hanya naik sebesar 0,13 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani meningkat 0,43 persen,” ungkap Yusniar.

Bagikan: