TRIBUN KALTIM – Raksasa teknologi Amazon kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan rencana pengurangan ribuan tenaga kerjanya. CEO Amazon Andy Jassy buru-buru meluruskan spekulasi yang beredar mengenai penyebab utama keputusan tersebut.
Banyak pihak menduga langkah ini diambil karena tekanan biaya atau penggantian manusia dengan teknologi kecerdasan buatan. Namun Jassy menampik anggapan bahwa AI menjadi alasan di balik pemangkasan 14.000 posisi manajerial itu.
Ia menegaskan bahwa kebijakan ini murni bertujuan untuk menghapus birokrasi berlebih yang menjangkiti perusahaan. Struktur organisasi yang terlalu gemuk dinilai memperlambat gerak perusahaan dalam berinovasi dan mengambil keputusan.
Budaya Kerja Lambat
Jassy menyoroti fenomena rapat yang tidak efektif dan lapisan manajemen yang berlapis-lapis sebagai masalah utama. Kondisi ini membuat karyawan kehilangan rasa kepemilikan terhadap proyek yang mereka tangani karena terlalu banyak campur tangan atasan.
Perusahaan ingin kembali memiliki kelincahan operasional seperti sebuah startup meski kini beroperasi dalam skala global. Pengurangan jabatan ini diharapkan dapat memperlancar arus komunikasi dan menghilangkan hambatan birokrasi.
Ia menekankan kembali bahwa fokus utama perombakan ini adalah kesehatan organisasi jangka panjang. Andy Jassy menyampaikan hal tersebut untuk meredam isu liar yang berkembang di kalangan pekerja teknologi.
“Ini bukan tentang pemotongan biaya tetapi tentang budaya dan birokrasi,” kata Andy Jassy, Minggu (25/1/26).






