TRIBUN KALTIM – Persib U18 gagal mengamankan poin penuh saat menjamu Persebaya Surabaya dalam lanjutan Elite Pro Academy (EPA) Super League 2025/26. Tim Maung Ngora dipaksa menyerah dengan skor tipis 1-2 di SPOrT Jabar Arcamanik pada Sabtu (14/02/26).
Tuan rumah sebenarnya sempat memimpin kedudukan lebih dulu melalui aksi gol Kaindra Nabil Purnama Ali pada menit 42. Namun situasi berubah drastis setelah kartu merah memaksa Persib tampil dengan kekuatan pincang di sisa waktu pertandingan.
Gelandang Persib Ibnu Sabian harus keluar lapangan lebih cepat setelah menerima kartu merah tepat pada menit 45. Keunggulan jumlah pemain ini dimanfaatkan Persebaya untuk membalikkan keadaan lewat gol penalti M. Satria Choirul Fikri dan gol penentu M. Reyhan Aditya.
Kesalahan Prinsipil Pemain Muda
Kekalahan di hadapan pendukung sendiri ini menjadi catatan merah bagi jajaran kepelatihan Persib U18. Tito Agung Setiawan selaku pelatih menilai anak asuhnya melakukan banyak kesalahan yang seharusnya bisa dihindari dalam laga sepenting itu.
Hilangnya satu pemain akibat kartu merah dinilai menjadi awal dari rentetan kesalahan lain yang membuat skema permainan berubah total. Tito menyayangkan adanya pelanggaran di area terlarang yang berujung pada tendangan penalti bagi tim tamu.
Perubahan strategi yang dilakukan tim pelatih tidak berjalan maksimal akibat adanya kekeliruan mendasar yang dilakukan para pemain di lapangan. Hal tersebut menjadi pelajaran agar ke depan kesalahan serupa tidak kembali terulang dalam pertandingan resmi menurut Tito.
Masalah Mentalitas Over-Confident
Selain kendala teknis, faktor psikologis pemain menjadi sorotan utama dalam evaluasi usai pertandingan melawan Bajul Ijo. Tito melihat ada penurunan konsentrasi yang sangat signifikan setelah timnya berhasil mencetak gol pembuka.
Para pemain muda Persib dianggap terlalu percaya diri dan merasa kemenangan sudah dalam genggaman padahal laga masih menyisakan waktu panjang. Sikap tersebut justru menjadi bumerang yang merugikan kolektivitas tim secara keseluruhan.
“Saya melihat ada sikap over-confident ketika unggul. Mereka merasa dirinya akan jadi pemenang padahal pertandingan masih berjalan dengan sisa waktu yang panjang. Di situlah kami kehilangan konsentrasi,” jelas Tito.






