TRIBUN KALTIM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi musim kemarau di Indonesia akan mulai berlangsung secara bertahap pada April (15/4/26). Awal musim kering ini akan menyentuh wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagian Bali, serta Jawa bagian Timur sebelum nantinya bergerak meluas ke wilayah Barat Indonesia.
Meskipun kalender prakiraan telah memasuki musim kemarau, masyarakat diminta tidak heran jika curah hujan masih tinggi di beberapa titik. Fenomena tersebut merupakan bagian dari masa transisi atau pancaroba yang memang memiliki karakteristik cuaca tidak menentu.
Tahapan Transisi dan Cuaca Ekstrem
Proses perubahan musim di Indonesia dipastikan tidak akan terjadi secara instan layaknya sebuah keajaiban dalam sekejap mata. Indonesia harus melewati periode pancaroba yang kerap memicu cuaca ekstrem seperti perubahan suhu panas ke hujan yang terjadi sangat cepat.
Fase transisi dari musim hujan ke kemarau ini dijadwalkan berlangsung pada periode Maret hingga April. Sedangkan fase peralihan sebaliknya dari kemarau ke hujan baru akan terjadi pada kisaran Oktober hingga November mendatang.
“Iya, musim kemarau itu bukan sulap bukan sihir yang terjadi sekejap mata,” tulis pihak otoritas cuaca dalam keterangan informasinya.
Puncak Kemarau dan Risiko Bencana
Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi terjadi sekitar Agustus 2026. Meskipun secara umum terjadi pada bulan tersebut, beberapa wilayah mungkin akan mengalami puncak kekeringan di rentang Juli hingga September.
Kondisi ini akan berimplikasi langsung pada ketersediaan air bersih dan meningkatnya potensi kebakaran hutan serta lahan di sejumlah daerah. Risiko karhutla diperkirakan mulai merangkak naik sejak Juli dan akan mencapai titik paling krusial pada Agustus hingga September.
Musim kemarau di Indonesia diperkirakan berakhir sekitar Oktober hingga November saat mulai masuk musim hujan, demikian pernyataan resmi tersebut.






