TRIBUN KALTIM – Banjir Pasang Air Laut atau yang lebih dikenal dengan sebutan banjir rob menjadi ancaman serius bagi wilayah pesisir Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar genangan air biasa, melainkan pola fluktuasi muka air laut yang memiliki dampak jangka panjang yang merusak.
Secara ilmiah, banjir rob dipengaruhi oleh gaya tarik benda-benda angkasa, terutama posisi Bulan dan Matahari terhadap massa air laut di Bumi. Namun, Jumat (2/1/26), para ahli memperingatkan bahwa ancaman ini diprediksi akan semakin besar di masa mendatang.
Skenario kenaikan muka air laut akibat efek pemanasan global (global warming) menjadi faktor utama yang memperparah intensitas banjir ini. Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, seperti Semarang, dampaknya sangat nyata dan melumpuhkan.
Situasi di lapangan sering kali menjadi lebih buruk karena faktor ganda. Banjir rob di pesisir kerap diperparah oleh adanya genangan air hujan, banjir kiriman dari daerah atas, hingga sistem saluran drainase lokal yang kurang terawat.
Mengancam Lahan Produktif
Dampak yang ditimbulkan tidak main-main. Aktivitas keseharian warga mulai dari kegiatan rumah tangga hingga aksesibilitas jalan menjadi terganggu. Keterbatasan penggunaan sarana dan prasarana umum pun tak terelakkan.
Lebih jauh, banjir rob menyebabkan kerusakan infrastruktur pantai akibat hantaman abrasi yang terus-menerus. Akibat fatalnya, penduduk pantai terancam kehilangan tempat tinggal hingga mata pencaharian mereka.
Salah satu kerugian terbesar yang sering luput dari perhatian adalah perubahan fungsi lahan. Banjir rob secara perlahan mengubah lahan produktif menjadi area yang tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi.
“Dampak banjir rob menjadikan infrastruktur pantai rusak karena terkena abrasi pantai. Akibat selanjutnya penduduk pantai akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian,” ungkap Suryanti dan Marfai dalam studinya.






