TRIBUN KALTIM – Masyarakat sering salah kaprah menilai sistem perladangan berpindah yang dilakukan suku asli Kalimantan. Aktivitas membuka lahan ini sejatinya memiliki aturan ketat yang bersumber dari kearifan membaca tanda alam.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Mulawarman Siti Muflihah menyoroti kedalaman ilmu titen dalam tradisi tersebut. Para petani tidak sembarangan menanam padi gunung sebelum alam memberikan izin melalui isyarat khusus Kamis (1/1/2026).
Pedoman Bintang dan Rumput
Tanda pertama biasanya terlihat dari susunan benda langit yang disebut Bintang Patendu. Gugusan bintang yang berjejer terang ini menjadi kalender alami bagi masyarakat untuk memulai siklus pertanian.
Alam juga memberi sinyal lewat kondisi hidrologi saat air sungai mulai surut atau danum sungei nampara teah. Petani juga akan melihat perubahan warna rumput jenis Uru Kaluy Batue yang menua kemerahan.
Suasana kampung pun biasanya berubah menjadi lebih ramai dengan aktivitas anak-anak. Permainan tradisional gasing dari kayu ulin yang dimainkan bocah menjadi penanda sosial bahwa musim tanam telah tiba.
Prosesi yang Terukur
Tahapan teknis dimulai dengan meneweng atau menebang pepohonan di area yang ditentukan. Setelah itu dilakukan manyeha yakni pembakaran sisa tumbuhan yang abunya nanti menyuburkan tanah.
Proses pembakaran ini dilakukan dengan perhitungan matang agar api tidak menjalar ke area hutan lain. Jika pembakaran pertama belum sempurna petani akan melakukan mangakal atau pembersihan ulang.
Proses ini bukan sekadar mencari makan tetapi bentuk komunikasi spiritual manusia dengan pencipta agar tidak melampaui batas sebagai makhluk. Siti Muflihah menegaskan dalam tulisannya bahwa tradisi ini adalah simbol harmoni ekologis.
“Manugal merupakan tradisi asli Suku Dayak sebagai tanda kedekatan dengan alam sekitar.” pungkasnya.(*)






