Mengapa Puting Beliung Lebih Sering Menerjang Saat Musim Pancaroba?

Muflihah

TRIBUN KALTIM Fenomena angin puting beliung menjadi ancaman nyata bagi masyarakat saat memasuki masa peralihan musim atau pancaroba. Intensitas kemunculan fenomena atmosfer ini tercatat meningkat drastis terutama pada periode siang hingga sore hari.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa puting beliung memiliki karakteristik yang sangat lokal dan terjadi dalam durasi singkat. Kondisi ini membuat prediksi kemunculannya jauh lebih sulit dibandingkan dengan siklon tropis yang berskala luas Jumat (24/04/26).

Peningkatan suhu udara yang ekstrem saat siang hari pada masa pancaroba memicu ketidakstabilan atmosfer yang tinggi. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa pusaran angin kencang lebih sering terbentuk di saat pergantian musim daripada saat musim hujan merata.

Mekanisme Pembentukan Awan

Proses pembentukan puting beliung biasanya diawali dengan pemanasan yang kuat sehingga menciptakan udara gerah sejak malam hingga pagi hari. Kelembapan udara yang tinggi pada saat bersamaan memicu pertumbuhan awan Cumulus yang kemudian berkembang cepat menjadi awan Cumulonimbus.

Awan hitam pekat yang menjulang tinggi seperti bunga kol ini membawa energi besar yang dilepaskan dalam bentuk hujan deras dan angin kencang. Jika kondisi atmosfer mendukung, pusaran angin akan turun ke permukaan bumi dan merusak apa pun yang dilaluinya.

Meskipun tanda-tanda alam telah terlihat, masyarakat diminta tetap merujuk pada peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan secara resmi. “Tanda-tanda tersebut tidak 100 persen memicu puting beliung itu sendiri,” tulis keterangan dalam informasi tersebut.

Bagikan: