TRIBUN KALTIM – Pergeseran prioritas yang radikal sedang melanda tenaga kerja di Uni Emirat Arab (UAE), khususnya di kalangan pegawai pemerintahan. Topik pembicaraan di kantor yang dulunya berkutat seputar kenaikan gaji atau promosi kini berubah menjadi kekhawatiran akan kelangsungan karier.
Pegawai negeri sipil (PNS) dan pekerja sektor publik di Dubai kini dilaporkan lebih mencemaskan ancaman kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ketimbang besaran gaji yang mereka terima. Fenomena ini terungkap dalam laporan terbaru Departemen Sumber Daya Manusia Pemerintah Dubai (DGHR).
Studi yang dilakukan bekerja sama dengan Mohammed Bin Rashid School of Government (MBRSG) ini menyurvei pegawai di 34 departemen pemerintah. Hasilnya menyoroti krisis kepercayaan diri yang cukup serius di tengah gempuran teknologi.
Sebanyak 55 persen pegawai pemerintah mengaku cemas pekerjaan mereka akan hilang atau digantikan oleh AI generatif. Ketakutan akan dislokasi pekerjaan ini kini menjadi “hantu” baru di balik meja kerja birokrasi Dubai.
Padahal, secara ironis, mayoritas responden sebenarnya mengakui manfaat teknologi tersebut. Sekitar 94 persen pegawai menyatakan optimisme bahwa AI akan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Namun, efisiensi itu justru dianggap sebagai pedang bermata dua yang bisa memangkas peran manusia.
Stabilitas Lebih Penting dari Gaji
Ketakutan di sektor publik ini sejalan dengan tren umum di pasar tenaga kerja Timur Tengah. Survei regional Middle East Workforce Hopes and Fears 2025 mencatat perubahan drastis dalam mentalitas pekerja.
Sebanyak 85 persen responden kini menempatkan keamanan kerja (job security) sebagai prioritas utama di atas kenaikan gaji. Era di mana pekerja mengejar gaji tertinggi perlahan berganti menjadi era bertahan hidup agar tidak terdepak oleh algoritma.
Bahkan, laporan dari Oliver Wyman menunjukkan fakta yang lebih mencengangkan. Hampir dua pertiga pekerja di UAE dan Arab Saudi menyatakan rela menerima pemotongan gaji asalkan perusahaan memberikan pelatihan atau akses upskilling di bidang AI.
Tekanan untuk beradaptasi ini dirasakan sangat berat. Tiga perempat profesional menggambarkan proses belajar AI saat ini rasanya seperti memiliki “pekerjaan kedua” di luar tugas utama mereka.
Bagi para pegawai di Dubai, pesan dari revolusi industri ini sangat jelas: Gaji besar tidak ada artinya jika posisi pekerjaan itu sendiri lenyap dalam lima tahun ke depan.






