TRIBUN KALTIM – Kelestarian mamalia air tawar satu-satunya di Indonesia kini berada di ambang kepunahan akibat tekanan aktivitas manusia yang kian masif. Pesut mahakam yang merupakan satwa endemik kebanggaan Provinsi Kalimantan Timur dilaporkan mengalami penurunan populasi secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Data terbaru dari yayasan konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia menunjukkan jumlah individu yang bertahan di habitatnya kini sangat mengkhawatirkan pada Jumat (27/2/26). Satwa predator puncak ini hanya menyisakan puluhan ekor yang tersebar di wilayah perairan sungai terpanjang di tanah borneo tersebut.
Populasi Kritis di Titik Terendah
Angka kematian yang tinggi di setiap tahap kehidupan mulai dari bayi hingga dewasa menjadi faktor utama sulitnya spesies ini untuk pulih. Siklus reproduksi yang panjang dan lambat membuat upaya perekrutan individu baru tidak sebanding dengan laju kehilangan yang terjadi setiap tahunnya.
Habitat yang tersisa kini hanya terkonsentrasi di beberapa titik seperti wilayah Muara Kaman hingga Danau Semayang dan Danau Melintang. Kondisi fragmentasi habitat akibat campur tangan manusia ini dikhawatirkan akan memicu depresi perkawinan sedarah yang mempercepat kepunahan permanen.
Ancaman Jaring Nelayan dan Kerusakan Sungai
Kematian pesut di Sungai Mahakam didominasi oleh insiden terjeratnya hewan tersebut pada jaring insang milik nelayan yang dipasang di sepanjang aliran sungai. Selain itu praktik penangkapan ikan ilegal menggunakan alat setrum dan polusi dari limbah industri pertambangan semakin mempersempit ruang hidup mamalia akuatik ini.
Gangguan kebisingan dari mesin perahu serta berkurangnya ikan putihan sebagai sumber makanan utama turut memperburuk kondisi kesehatan populasi yang ada. Diperlukan langkah perlindungan habitat secara menyeluruh yang tidak hanya melarang eksploitasi satwa tetapi juga mengatur tata kelola lingkungan di sepanjang aliran sungai.
“Populasi pesut mahakam yang tersisa saat ini hanya berjumlah 41 ekor saja,” tulis Ghofar dalam laporannya.
“Sekitar 74 persen dari total kasus kematian pesut mahakam disebabkan oleh terjeratnya hewan tersebut pada jaring insang nelayan,” kata Noor.






