TRIBUN KALTIM – Perubahan iklim kini telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan setiap harinya. Namun fenomena cuaca ekstrem bernama El Nino dan La Nina kerap membuat publik kebingungan.
Kedua anomali iklim ini memiliki rentang waktu kemunculan antara dua hingga tujuh tahun sekali. Saat terjadi siklus cuaca perusak ini mampu bertahan selama dua belas hingga lima belas bulan di perairan.
El Nino sendiri merupakan fase pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini memicu peningkatan tekanan udara di kawasan Pasifik barat yang berdampak langsung pada Nusantara.
Tekanan udara yang tinggi di Indonesia membuat awan hujan sangat sulit terbentuk di langit. Massa udara beserta kumpulan awan konvektif justru terseret menuju wilayah Pasifik tengah dan timur.
Petaka Awan Cumulonimbus
Situasi sebaliknya terjadi saat siklus La Nina melanda kawasan perairan samudra lepas. Suhu di Pasifik tengah dan timur merosot tajam yang membuat tekanan udara di Pasifik barat menurun drastis.
Penurunan tekanan ini menjadikan wilayah udara Nusantara sangat ideal bagi pembentukan awan badai. Awan pekat berjenis cumulonimbus pun berkumpul membawa ancaman curah hujan ekstrem bagi daratan.
Kumpulan awan tebal inilah yang sering memicu bencana hidrometeorologi parah di berbagai daerah pesisir maupun pegunungan. Guyuran air dari langit nyaris tidak terbendung saat fase La Nina mencapai titik puncaknya.






