TRIBUN KALTIM – Keputusan untuk mengakhiri masa lajang dan membina rumah tangga sangat bervariasi di setiap negara. Faktor budaya serta tingkat kemapanan ekonomi suatu bangsa ternyata memegang peranan vital dalam menentukan rata-rata usia pernikahan warganya.
Data demografi terbaru merilis daftar usia rata-rata pernikahan pertama di berbagai belahan dunia. Terdapat kesenjangan yang sangat mencolok antara negara-negara di benua Eropa dengan negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.
Laporan dari World Population Review memperlihatkan posisi Indonesia yang cukup mengejutkan jika disandingkan dengan negara tetangga. Indonesia mencatatkan angka yang tergolong sangat belia dalam urusan pernikahan.
“Spanyol menempati urutan teratas dengan rata-rata usia pernikahan 38,8 tahun, sedangkan Indonesia berada di angka 21,0 tahun,” bunyi data dalam laporan World Population Review, Minggu (28/12/2025).
Kesenjangan dengan Tetangga ASEAN
Angka 21 tahun yang dicatatkan Indonesia menempatkan negara ini sebagai salah satu yang termuda dalam usia pernikahan di kawasan Asia. Rata-rata orang Indonesia menikah tujuh hingga delapan tahun lebih cepat dibandingkan warga Singapura atau Malaysia.
Singapura mencatatkan rata-rata usia menikah di angka 29,5 tahun. Sementara itu Malaysia berada tipis di bawahnya dengan angka 29,4 tahun dan Thailand di angka 27,6 tahun.
Bahkan Vietnam dan Filipina masih memiliki rata-rata usia menikah di atas 25 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tren menikah di usia awal 20-an masih sangat mendominasi budaya masyarakat Indonesia dibandingkan negara ASEAN lainnya yang mulai bergeser ke usia matang.
Posisi Indonesia dalam data tersebut sejajar dengan Kamboja dan Republik Demokratik Kongo yang juga mencatatkan angka 21,0 tahun. Fakta ini mengindikasikan adanya korelasi antara status negara berkembang dengan kecenderungan menikah di usia muda.
Tren Penundaan di Negara Maju
Sebaliknya, negara-negara maju menunjukkan tren penundaan pernikahan yang sangat ekstrem hingga mendekati usia 40 tahun. Selain Spanyol, negara seperti Chili dan Belanda mencatatkan usia rata-rata di atas 37 tahun.
Di Asia Timur, Korea Selatan memimpin tren menikah lambat dengan rata-rata usia 37,0 tahun. Jepang menyusul di angka 29,7 tahun yang masih jauh lebih tua dibandingkan rata-rata usia nikah di Indonesia.
Faktor karir, pendidikan tinggi, dan tingginya biaya hidup disinyalir menjadi penyebab utama warga negara maju menunda pernikahan. Sementara di Indonesia, faktor agama dan budaya kekeluargaan yang kuat mendorong percepatan angka pernikahan.
Data ini menjadi cerminan bagaimana prioritas hidup masyarakat global terbelah berdasarkan wilayah geografis dan kondisi ekonomi. Perbedaan belasan tahun antara Spanyol dan Indonesia menunjukkan dua kutub mentalitas yang berbeda dalam memandang institusi pernikahan.
“Perbedaan angka statistik ini mencerminkan keberagaman prioritas sosial dan ekonomi yang dianut oleh masyarakat di masing-masing negara,” tutup laporan tersebut.






