Stop Sebut Gen Z Malas, Mereka Cuma Menolak Gila Karena Pekerjaan

Muflihah

TRIBUN KALTIM – Label ‘malas’ atau ‘lembek’ kerap mampir ke telinga para pekerja dari kalangan Generasi Z. Namun data terbaru menunjukkan bahwa stigma tersebut hanyalah kesalahpahaman besar antargenerasi dalam memandang budaya kerja.

Laporan bertajuk The Gen Z Work Code mengungkap isi hati sebenarnya dari 23.000 profesional muda lintas industri. Temuan ini menegaskan bahwa mereka bukan menghindari kerja keras melainkan menolak sistem yang merusak kewarasan.

Bagi separuh responden keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan adalah harga mati. Angka ini bahkan menyentuh 60 persen pada kelompok pekerja yang sudah berpengalaman lima hingga delapan tahun.

Sikap tegas ini bukanlah tanda kerapuhan mental seperti yang sering dituduhkan. Justru ini adalah bentuk antisipasi cerdas dari generasi yang tumbuh dan masuk dunia kerja di tengah krisis pandemi global.

Mereka memulai karier saat batasan fisik antara kantor dan rumah hancur lebur. Kamar tidur yang seharusnya menjadi tempat istirahat paling aman mendadak berubah fungsi menjadi ruang rapat tanpa henti.

Menolak Normalisasi Burnout

Gen Z menyadari sepenuhnya bahwa ketiadaan batasan ini berujung pada kecemasan kronis dan gangguan tidur. Kesehatan mental mereka tergerus bukan karena satu kejadian besar melainkan akibat normalisasi kelelahan sehari-hari yang tidak disadari.

Selain soal waktu mereka juga dihantui oleh ketakutan akan stagnasi kemampuan atau skill. Di era teknologi yang berubah cepat diam di tempat dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi kelangsungan karier mereka.

Gaya kepemimpinan yang terlalu mengatur atau micromanagement juga diidentifikasi sebagai musuh utama kesehatan mental. Pengawasan berlebihan dari atasan dianggap sebagai sinyal ketidakpercayaan yang memicu rasa rendah diri atau imposter syndrome.

Pada dasarnya generasi ini tidak meminta beban kerja dikurangi secara drastis. Tuntutan utama mereka hanyalah lingkungan yang menghargai manusia sebagai individu utuh dan bukan sekadar alat produksi.

Jika perusahaan gagal beradaptasi dengan tuntutan ini maka fenomena pengunduran diri diam-diam atau quiet quitting akan terus berlanjut. Dunia kerja dituntut untuk segera berubah sebelum kesehatan mental pegawainya menjadi tumbal.

Bagikan: